Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Posted on
Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Tiap-tiap orang-orang pastinya mempunyai agama sebagai keyakinan yang memengaruhi manusia sebagai individu, sebagai pegangan hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga di pengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan jadi jati diri dari bangsa serta suku bangsa. Suku itu pelihara serta melestarikan budaya yang ada. Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa serta rasa manusia
menurut Alisyahbana ; adalah satu keseluruhnya yang kompleks yang berlangsung dari unsur-unsur yang tidak sama seperti pengetahuan, keyakinan, seni, hukum, moral, kebiasaan istiadat, serta semua kecakapan yang didapat manusia sebagai anggota orang-orang. (1 Bustanudin Agus, Islam serta Pembangunan, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 15)

Dalam orang-orang, baik yang kompleks ataupun yang simpel, ada beberapa nilai budaya yang satu dengan lain sama-sama terkait sampai jadi satu system, serta system itu sebagai dasar dari beberapa rencana ideal dalam kebudayaan berikan pendorong yang kuat pada arah kehidupan warga orang-orangnya. (2 Atang Abdullah Hakim Serta Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006),

cet. kedelapan, hal. 28) Kebiasaan sebagai satu diantara sisi dari kebudayaan menurut ahli hukum F. Geny yaitu fenomena yang senantiasa mewujudkan keperluan orang-orang. Sebab yang tentu dalam jalinan antar individu, ketentuan keperluan hak mereka, serta keperluan kesamaan yang disebut azas tiap-tiap keadilan mengambil keputusan kalau aturan yang dikuatkan kebiasaan yang baku itu mempunyai balasan materi, yang diwajibkan hukum. Aturan ini sesuai sama perasaan manusia yang tersembunyi, yang tercermin dalam penghormatan kebiasaan yang baku serta perasaan individu dengan rasa takut saat tidak mematuhi apa yang sudah dikerjakan pendahulu mereka (3 Koentjaraningrat, Pengantar Pengetahuan Antropologi, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1990), cet. kedelapan, hal. 190. )

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Menurut Hardjono dalam I Nyoman Beratha memberi penjelasan singkat kalau kebiasaan yaitu satu pengetahuan atau ajaran-ajaran yang di turunkan dari saat ke saat. Ajaran serta pengetahuan itu berisi mengenai prinsip universal yang digambarkan jadi fakta serta kebenaran yang relatif. Dengan hal tersebut semua fakta serta kebenaran dalam alam yang lebih rendah itu yaitu peruntukan (application) dari pada prinsip-prinsip universal. (4 Samir Aliyah, System Pemerintahan, Peradilan & Kebiasaan dalam Islam, penerjemah : H. Asmuni, (Jakarta : Khalifa, 2004), cet. petama, hal. 512. )

Sedang menurut Harapandi Dahri, kebiasaan didefinisikan seperti berikut :
Kebiasaan yaitu satu rutinitas yang teraplikasikan dengan cara terus-menerus dengan beragam lambang serta ketentuan yang berlaku pada suatu komune. Awal-mula dari satu kebiasaan yaitu ritual-ritual individu lalu disetujui oleh sebagian kelompok serta pada akhirnya diterapkan dengan cara berbarengan serta bahkan juga seringkali bebrapa kebiasaan itu selesai jadi satu ajaran yang bila ditinggalkan bakal mendatangakan bahaya.

 (5 I Nyoman Beratha, Desa, Orang-orang Desa serta Pembangunan Desa, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1982), hal.
22. ) Tradisi-tradisi itu bisa disaksikan pada ; ’Upacara Tawar Laut/Ketupat Laut’, ’Tahun Baru Cina’, ’Sembahyang Pendam Cina’, ’Sembahyang Pantai’, ’Kawin Massal’, Perang Ketupat’, ’Mandi Belimau’, ’Sedekah Kampung’, ’Rebo Kasan’, ’Nganggung’ serta yang lain yang dikerjakan di Kepulauan Bangka Belitung. Kebiasaan ini dikerjakan sebagai pengungkapan atas rasa sukur pada anugerah yang sudah didapatkan dari Sang Pencipta, yang kental dengan nuansa keagamaan. Pewarisan kebiasaan itu bisa berlangsung lewat pertunjukkan upacara kebiasaan disuatu orang-orang.

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Searah dengan pengertian diatas, upacara disini adalah sumber pengetahuan mengenai bagaimana seorang melakukan tindakan serta berlaku pada satu tanda-tanda yang diperolehnya lewat sistem belajar dari generasi terlebih dulu serta lalu mesti di turunkan pada generasi selanjutnya. Ritual keagamaan yang dibungkus dengan bentuk kebiasaan ini dikerjakan dengan cara turun temurun serta berkepanjangan dalam periodik saat spesifik, bahkan juga sampai berlangsung akulturasi dengan budaya lokal. Seperti apa yang dipertunjukkan orang-orang Bangka

Nganggung yaitu satu kebiasaan turun temurun yang cuma dapat didapati di Bangka. Karenanya kebiasaan nganggung bisa disebutkan satu diantara jati diri Bangka, sesuai sama slogan Sepintu Sedulang, yang mencerminkan karakter kegotong royongan, berat sama dipikul enteng sama dijinjing. Nganggung atau Sepintu Sedulang adalah warisan nenek moyang yang mencerminkan satu kehidupan sosial orang-orang berdasar pada gotong-royong. Tiap-tiap bubung tempat tinggal lakukan aktivitas itu untuk dibawa ke masjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung.

Mengenai nganggung adalah satu aktivitas yang dikerjakan orang-orang dalam rencana memperingati hari besar agama Islam, menyongsong tamu kehormatan, acara selamatan orang wafat, acara pernikahan atau acara apa pun yang melibatkan orang banyak. Nganggung yaitu membawa makanan didalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dikonsumsi berbarengan sesudah proses ritual agama. Makanan itu dibawa lewat cara di ” anggung ” (dipapah di bahu) memakai dulang yang ditutup dengan tudung saji pandan atau daun nipah khas Bangka yang warnanya semarak dengan motif yang khas juga. Itu penyebabnya Kepulauan Bangka Belitung dimaksud juga ” Negeri Sepintu Sedulang “. Walau sekian, ada pula banyak daerah yang membawa makanan itu dengan rantang. Walau demikian, tetap harus diberi nama nganggung lantaran dasarnya ketika acara makan-makan bersamanya. Terkecuali untuk menyongsong serta merayakan hari-hari besar keagamaan, nganggung juga dikerjakan untuk menyongsong tamu kehormatan, seperti gubernur, bupati atau tamu kehormatan yang lain.

Untuk menghormati tamu istimewa yang datang itu. Umumnya orang-orang menyongsong serta menjamu tamu dengan cara bergotong royong yakni dengan kebiasaan nganggung ini. Nganggung juga kerap dikerjakan sebagai ungkapan ikut berduka cita atas wafatnya satu diantara warga. Pada 7 hari sesudah saat berkabung umumnya orang-orang juga melakukan ritual tahlilan yang diikuti dengan kebiasaan nganggung untuk melindungi solidaritas serta ikut menolong yang terserang musibah. Dengan kebiasaan ini kita bisa tunjukkan rasa kepedulian, kebersamaan, gotong royong serta senantiasa melindungi dan merajut tali kekeluargaan serta jalinan silaturrahim pada sesama. Dari ritual ini, tercermin begitu orang-orang Bangka menjujung tinggi rasa persatuan serta kesatuan dan gotong royong, tidak cuma dikerjakan masyarakat setempat tetapi dengan juga beberapa pendatang. Jiwa gotong royong orang-orang Bangka cukup tinggi.

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Warga orang-orang bakal mengulurkan tangannya menolong bila ada anggota warganya memerlukanya. Semuanya jalan dengan didasari jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini bisa disaksikan, umpamanya ketika panen lada, acara-acara kebiasaan, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan serta kematian. Acara ini lebih di kenal dengan sebutan “Nganggung”, yakni aktivitas tiap-tiap tempat tinggal mengantarkan makanan dengan memakai dulang, yaitu baki bulat besar. Saat proses nganggung umumnya beragam, tak mutlak mesti sama pada satu desa dengan desa yang lain, bergantung perjanjian berbarengan pada masyarakat desa semasing. Ada desa yang mengadakan nganggung selepas maghrib, ada yang menyelenggarakannya jam 07. 00. Ada juga yang mengadakan aktivitas ini jam 10. 00 pagi, sesudah paginya orang-orang bergotong royong bersihkan mesjid. Serta ada juga desa yang lakukan aktivitas nganggung ini pada pukul 16. 00, sesudah sholat ashar.

Perbuatan manusia yang berbentuk keagamaan di pengaruhi serta ditetapkan oleh
tiga manfaat tersebut :

Cipta (Reason)
adalah manfaat intelektual jiwa manusia. Lewat cipta manusia bisa manilai serta memperbandingkan serta setelah itu mengambil keputusan satu aksi pada stimulan spesifik. Cipta bertindak untuk memastikan benar atau tidaknya ajaran satu agama berdasar pada pertimbangan berpendidikan seorang.

Rasa (Emo tio n)
yaitu satu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak bertindak dalam membuat motivasi dalam corak perilaku seorang. Rasa menyebabkan sikap batin yang seimbang serta positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.

Karsa (Will)
adalah manfaat eksekutif dalam jiwa manusia. Karsa berperan mendorong munculnya proses doktrin sebagai ajaran agama berdasar pada manfaat kejiwaan yang menyebabkan amalan-amalan atau praktek keagamaan yang benar serta logis.

Dalam acara nganggung ini, tiap-tiap kepala keluarga membawa dulang yakni semacam nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium serta ada pula yang terbuat dari kuningan, timah atau kayu serta. saat ini telah agak langka, namun beberapa orang-orang Bangka masihlah memiliki dulang. saat ini ada juga yang terbuat dari pelastik Di dalam dulang ini teratur bermacam type makanan sesuai sama perjanjian apa yang perlu dibawa. Bila nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi serta lauk pauk, nganggung ketupat umumnya ketika lebaran. Dulang ini ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari daun, semacam pandan, serta di cat, tudung saji ini terdapat banyak dipasaran. Dulang ini dibawa ke masjid, atau tempat acara yang telah diputuskan, untuk disajikan serta di nikmati berbarengan. Hidangan ini di keluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan juga dibarengi dengan rasa bangga.

Lelaki Perwakilan dari tiap-tiap tempat tinggal bersama-sama membawa dulang mereka ketempat yang telah disetujui dengan samping tangan setinggi bahu atau berniat jadikan bahu sebagai penopang Dulang. Sesudah tiba di tempat panitia bakal terima dulang serta menempatkannya dengan rapi umumnya bakal bertukaran dulang dengan maksud sama-sama nikmati makanan namun bukanlah makanan yang kita bawa sendiri dari tempat tinggal. Orang-orang yang ikuti nganggung duduk berbaris sama-sama bertemu. serta tiantara mereka ada dulang yang diisi makanan. Terkecuali orang-orang kampung seringkali juga orang dari kampung/Desa lain turut dalam acara ini atau beberapa tau yang berniat diundang untuk menghadiri acara nganggung. Sedang orang-orang yang tidak mau ikuti acara nganggung di masjid atau balai desa dapat juga nikmati hidangan di rumah warga. terutama pada acara nganggung spesifik seperti peringatan hari besar agama, pesta panen, atau sedekah kampung.

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Tetapi dalam perubahannya saat ini, aktivitas nganggung yang masihlah eksis dipertahankan cuma ketika memperingati hari besar agama Islam, serta menyongsong tamu kehormatan saja. Dengan makin majunya jaman kebiasaan membawa dulang yang berwarna-warni di atas bahu dengan jalan kaki menuju tempat nganggung bertukar dengan kendaraan bermotor. begitu juga dengan dulang sebagai tempat makanan nganggung bertukar juga dengan rantang seng atau plastik hal semacam ini mungkin saja karena orang-orang bangka belitung tak mempunyai dulang serta tudung saji sebagai pemanis situasi nganggung atau sulitnya mencari dulang dan tudung saji yang tempat tumbuh bahan bakunya makin menyusut tergerus dengan tempat tambang timah yang makin meraja lela.
Lalu Sebagai sinyal bertanya yaitu seberapa besar potensi pariwisata pada ritual kebiasaan istiadat itu. Sudah pasti semuanya perhelatan budaya memiliki nilai wisata yang begitu besar jika dimaksimalkan. Tak ada budaya yg tidak memiliki nilai wisata. Dalam soal ini sudah pasti ritual kebiasaan sepintu sedulang itu dapat di jual atau dikomersilkan sebagai potensi wisata pulau Bangka. Hal itu sudah pasti jika ritual itu dikemas dengan sedemikian rupa hingga dapat disebutkan layak untuk menarik ketertarikan wisatawan untuk bertindak andil dalam ritual itu.

Sumber :
-Tokoh orang-orang dalam dialog yang dikerjakan penulis dengan cara segera pada Stasiun Radio di sungailiat serta Pangkal pinang pada acara Budaya daerah.
– Kebiasaan sedekah kampung peradong. (Suryan Masrin 2010)
– Kapita selekta Budaya Bangka Buku I th 1995

SEDEKAH KAMPUNG

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Sebelumnya menerangkan pengertian Sedekah Kampung, terlebih dulu di jabarkan arti sedekah biasanya serta pemaknaan pada kampung tersebut. Sedekah atau kenduri yaitu rencana yang paling umum digunakan baik untuk perayaan sinyal sukur ataupun peringatan sinyal duka cita. Sedekah sebagai sinyal sukur dikerjakan untuk merayakan kelahiran, khitanan, perkawinan, geser tempat tinggal, habis panen, terlepas dari bahaya, dsb. Sedekah dikerjakan sebagai ungkapan rasa sukur pada Tuhan yang sudah melimpahkan rizki serta kasih sayang pada yang mnyelenggarakan sedekah serta permintaan supaya selalu di beri keselamatan serta perlindungan pada yang melakukan sedekah serta semuanya anggota orang-orang biasanya. Kampung atau yang kerap dimaksud dengan desa, adalah kesatuan administrasi paling kecil yang tempati lokasi spesifik, terdapat dibawah kecamatan ; terkait dengan rutinitas di kampung. Sedang menurut Bouman yang diambil oleh Beratha, mendeskripsikan desa dari sisi pergaulan hidup :

Desa yaitu satu diantara bentuk kuno dari kehidupan berbarengan sejumlah sebagian ribu orang, nyaris semua sama-sama mengetahui ; umumnya yang termasuk juga di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan, dsb, usaha-usaha yang bisa di pengaruhi oleh hukum serta kehendak alam. Serta dalam rumah itu ada banyak ikatan-ikatan keluarga yang rapat, ketaatan pada kebiasaan serta beberapa aturan sosial.

Sedekah Kampung yaitu upacara kebiasaan yang dikerjakan untuk mengungkap rasa sukur atas anugerah yang sudah didapatkan dari Sang Pencipta, sekalian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dikerjakan dengan beragam ritual yang terdapat dalam kebiasaan atau rutinitas orang-orang kampung yang sudah mengakar. Juga dimaknai sebagai rutinitas atau kebiasaan yang turun temurun dikerjakan, sampai jadi sisi dari budaya dengan sediakan makanan di satu tempat yang sudah ditetapkan serta dirumah semasing orang-orang setempat, dengan dikerjakan beragam kesibukan atau rutinitas kedaerahan sesuai sama daerah semasing yang dapat dimaksud dengan kebiasaan.

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Sedekah kampung sebagai kebiasaan atau rutinitas dari satu budaya adalah hasil cipta, karsa serta rasa manusia. Manusia sebagai khalifatu fii al-Ard (pewaris nenek moyang) adalah satu ikatan yg tidak terlepas dari kebudayaan. Kebudayaan seperti sudah dikemukakan oleh Geertz bisa diliat pada beberapa momen umum seperti ritual, festival atau perayaan spesifik lantaran pada beberapa momen itu orang mengekspresikan beberapa topik kehidupan sosial lewat aksi simbolik. Aksi itu meliputi pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, kebiasaan istiadat, serta bebrapa kekuatan lain dan bebrapa rutinitas yang didapat oleh manusia sebagai anggota orang-orang.

Didalam kehidupan, budaya nyatanya alami sistem seperti sistem biologi, berarti budaya juga alami bebrapa saat lahir, berkembang, surut, serta bahkan juga hilang sekalipun. Gunakan surutnya budaya itu bergantung padasta b ilita s sosial kehidupan manusia, lantaran budaya menyatu serta menempel dalam kehidupannya. Dengan kata lain, budaya adalah jati diri untuk manusia, bila budaya suram pastinya jati diri itu bakal kabur apabila ia tereleminasi sama juga dengan tak berbudaya lagi.

Budaya sebagai warisan bangsa yang bisa dirasa hingga saat ini (cultural
heritage) memiliki sebagian kandungan nilai yang begitu bernilai untuk keberlangsungan
satu bangsa atau etnis spesifik. Sedekah Kampung sebagai budaya lokal yang disebut warisan generasi terlebih dulu mempunyai nilai-nilai budaya yang dapat membuat perlindungan segi kehidupan yang lain, seperti kehidupan politik, sosial, ekonomi, serta religius. Diantara kandungan-kandungan yang telah disetujui dalam budaya daerah diantaranya ada :

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

1. Identifikasi daerah (local identification). Telah dimaksud diatas kalau budaya jadi identifikasi satu bangsa atau etnik ;
2. Kearifan daerah (local wisdom). Sikap arif bisa di pastikan dipunyai oleh tiap-tiap daerah lantaran meskipun tidak sama daerah tetaplah ada beberapa hal yang berbentuk umum ;
3. Pencerdas daerah (local genius). Nyaris tiap-tiap orang-orang ada minoritas yang mempunyai kekuatan memikirkan yang luas. Merekalah sesungguhnya obor orang-orang yang bakal membawa kemana orang-orang pergi. pemikiran mereka itu bakal jadikan oleh pelaksana pemerintahan yang lalu diikuti oleh orang-orangnya ;
4. Budaya kreatif (creative culture). Sebagai lanjutan dari minoritas kreatif pastinya mereka yang telah ada pada ranah budaya kreatif bakal membuahkan kreasi-kreasi baru. Kreasi berikut yang menyambung kehidupan budaya yang sudah ada ;
5. Kemandirian budaya (cultural independence). Kehadiran satu budaya mulai sejak awalannya yaitu kreasi elit yang disebut minoritas kreatif yang dalam keberlangsungannya di dukung oleh kekuasaan politik serta ekonomi. Kait-mengait antarfaktor itu tidak bisa dilepaskan. Tetapi, beberapa aspek itu hidup dalam satu daerah yang telah adalah kebulatan. Oleh karenanya, kebulatan budaya mesti dijaga agar kelestariannya jalan menggenerasi ;
6. Iklim sosio-kultural (socio-cultural sphere). Lajunya modernisasi di semuanya bagian kehidupan dibutuhkan iklim sosial budaya yang mensupport supaya orang-orang sebagai yang memiliki warisan budaya itu dengan cara sadar lakukan pelestarian budaya.

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Perayaan Sedekah Kampung sudah dikerjakan dengan cara turun temurun serta tak di ketahui asal usul dan awal mulai dikerjakannya. Sebelumnya proses acara itu, jauh terlebih dulu saat malam hari sang tetua kebiasaan (dukun) mengadakan ceriak (bermusyawarah dengan lakukan pemanggilan beberapa orang kampung oleh dukun yang maksudnya adalah untuk memastikan saat proses Sedekah Kampung.) pemanggilan beberapa orang kampung sebagai pemberitahuan bakal dilaksankannya upacara kebiasaan serta memastikan tanggal yang pas untuk proses upacara itu.

Pada tanggal yang sudah diputuskan tetua kebiasaan sebagai pawang desa dengan dibantu masyarakat setempat mengawali bikin batu persucian (taber) dengan memakai beberapa bahan tradisional dan dedaunan serta gaharu (dupa) dari buluh (bambu). Menurut sang dukun jaman dulu pemakaian dupa ini yaitu sebagai alat untuk menarik ketertarikan beberapa orang cina yang berdiam di desa itu supaya memeluk agama Islam. Sesudah persiapan, seperti ; batu persucian (taber) serta gaharu usai, lalu pada hari yang sudah ditetapkan itu, tetua kebiasaan serta orang-orang mempersiapkan makanan serta minuman, dan buah-buahan, duit serta binatang peliharaan seperti ; ayam serta bebek untuk diperebutkan sesudah ritual upacara permintaan izin dikerjakan.

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Semuanya peralatan sudah disiapkan, berbarengan masyarakat arak-arakan menuju Istana (sebutan orang-orang pada makam keturunan tetua kebiasaan yang jadikan sebagai tempat ritual upacara permintaan izin untuk melakukan Sedekah Kampung (makam leluhur yang disebut kakek buyut tetua kebiasaan) dengan diiringi semarang (selawatan barzanji) manfaat untuk memohon izin serta mengawali proses sedekah kampung. Setelah tiba disana, sang dukun lalu duduk diatas makam berbarengan dengan disajikan beragam jenis type makanan khas desa, duit dan hewan peliharaan seperti ayam serta bebek, lalu mulai pembacaan do’a serta mantera.

Sesudah pembacaan do’a serta mantera usai, masyarakat naik ke atas makam serta memperebutkan ayam, bebek serta buah-buahan dan duit yang ada diatas makam itu. Upacara lalu dilanjutkan dengan tampilan silat yang dikerjakan oleh dua orang, lalu sang dukun serta masyarakat pembantunya lakukan pemberianta n g kel (jimat) di empat penjuru, diawali dari istana itu menuju gerbang pintu masuk ke desa hingga akhir perbatasan desa itu. Pemberian jimat ini ditujukan untuk mencegah semua bentuk masalah dari luar yg tidak inginkan acara ini berjalan.

Dalam pelaksanaa upacara ini, ada banyak pantangan yang perlu dipatuhi oleh kebanyakan orang yang ikuti jalannya upacara ritual ini, yakni duduk diatas pagar, menempatkan jemuran/baju berbentuk apa pun diatas pagar serta bermain senter. Menurut masyarakat, jika pantangan itu dilanggar, jadi bakal didatangi oleh makhluk- makhluk halus serta mengubahnya jadi tepuler (kepala dengan muka terbalik ke belakang). Untuk tetua kebiasaan sepanjang acara berjalan, tak bisa makan serta minum (berpuasa).

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

 Sesudah usai dikerjakan sedekah kampung diikuti dengan nganggung aktivitas seperti ini masihlah dikerjakan didesa peradong tempilang air anyir, limbung jada bahrin serta sebagian desa lain di Bangka Belitung.

Sumber :
-Tokoh orang-orang dalam dialog yang dikerjakan penulis dengan cara segera pada Stasiun Radio di sungailiat serta Pangkal pinang pada acara Budaya daerah.
– Kebiasaan sedekah kampung peradong. (Suryan Masrin 2010)
– Kapita selekta Budaya Bangka Buku I th 1995

Wisata tempat lain :

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Mengenal Kebiasaan Nganggung di Bangka Belitung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.