Wisata Religi Masjid Senapelan Pekanbaru Riau

Posted on
Wisata Religi Masjid Senapelan Pekanbaru Riau

Seperti kota besar yang lain yang mempunyai lokasi kota tua, Pekanbaru juga mempunyai lokasi bersejarah sebagai saksi lahirnya Kota Pekanbaru, yang saat ini sudah berkembang jadi kota metropolis.

Walau sudah menjelma jadi satu kota metropolitan, dengan jejeran bangunan megah serta arsitektur moderen, Pekanbaru masihlah meninggalkan jejak-jejak histori saat lantas. Jejak-jejak histori ini bersanding dengan kebiasaan budaya Melayu yang masihlah bertahan sampai hari ini. Tempat ini bernama Kampung Senapelan yang ada di Kecamatan Senapelan.

Dari tempat berikut dapat kita rekam serta potret jejak histori panjang perjalanan Kota Pekanbaru. Sebagian tempat wisata favorite di Pekanbaru yang bernilai histori, banyak juga ada di kampung ini. Kampung Senapelan, persis ada di pusat kota Pekanbaru. Di Kampung Senapelan ini pulalah banyak tersimpan warisan histori serta budaya.

Dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, hanya perlu saat 15 menit untuk hingga di Senapelan. Beragam type transportasi dapat jadi pilihan. Ada busway (bus Trans Metro Pekanbaru), taksi, juga angkot atau angkutan kota yang di Pekanbaru umum dimaksud oplet. Ada di Kampung Senapelan, bakal membawa ingatan kita pada Kota Pekanbaru tempo dahulu.

Walau cuaca di Pekanbaru cukup panas, menyusuri kota tua ini dengan jalan kaki dapat jadi pilihan mengasyikkan. Bangunan-bangunan dengan arsitektur kuno masihlah dapat didapati di kiri-kanan jalan di lokasi ini. Selama jalan terdapat banyak pusat-pusat perniagaan. Kesibukan perdagangan juga begitu merasa disini. Tidak heran, sekarang ini Pekanbaru berkembang jadi satu diantara kota usaha termasyur di Indonesia.

Banyak beberapa tempat menarik di lokasi Senapelan yang dapat Anda eksplorasi untuk isi hari-hari sepanjang di Pekanbaru. Masjid Raya Pekanbaru dapat jadi maksud awal Anda waktu menginjakkan kaki disini. Masjid Raya Pekanbaru yang awalannya bernama Mesjid Senapelan ini di bangun pertama kalinya oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1780), Raja ke empat Kerajaan Siak Sri Indrapura, sekitaran th. 1762 M. Akses ke mesjid ini begitu gampang, lantaran terdapat di pusat kota.

Persisnya di Jalan Masjid No. 13, Kampung Bandar, Desa Payung Sekaki, Kecamatan Senapelan. Dengan areal yang cukup luas dengan beragam sarana pendukung, masjid ini bisa jadikan maksud wisata religius serta fasilitas pendidikan Agama Islam.

Masihlah di areal kompleks yang sama, Anda dapat berziarah ke makam pendiri Kota Pekanbaru, yaitu Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah yang bergelar Marhum Bukit. Ditempat ini dapat, ada makam Sultan Siak ke empat, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah yang bergelar Marhum Minggu.

Pemandu yang ada disini siap sharing narasi mengenai makam yang mempunyai nilai historis yang tinggi ini. Untuk beberapa photoshotter, mengambil gambar tempat bersejarah ini dari beragam pojok pasti begitu menarik. Pastinya, dapat jadi koleksi photo arsitektur yang menarik untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari kota yang dikunjungi. Senang menyambangi tempat ini, kita dapat meneruskan perjalanan ke Pasar Wisata Pasar Bawah.

Tidak jauh, cuma sekira 300 mtr. dari Komplek Masjid Raya. Cukup hanya jalan kaki. Keinginan berbelanja Anda bakal tercukupi waktu bertandang kesini. Pasar Bawah yaitu ‘’surga belanja’’nya Kota Pekanbaru. Pasar Bawah adalah pasar tertua di kota ini. Belum bertandang ke Pekanbaru apabila belum singgah ke pusat berbelanja satu ini.

Di Pasar Wisata Pasar Bawah banyak di jual beberapa barang yang menarik untuk jadikan oleh-oleh. Di lantai basic terdapat beberapa sekali makanan khas Riau yang dapat jadikan oleh-oleh saat pulang ke kota asal. Sebut saja, lempuk durian, keripik nenas, keripik nangka, salai ikan patin, dodol durian, kue bangkit, kacang jam, serta ada banyak lagi. Harga nya cukup murah. Rata-rata di bandrol dari mulai Rp 17 ribu sampai Rp 35 ribu.

Masihlah di lantai basic ini, kita dapat juga beli beragam cinderamata serta souvenir asli Riau. Ada t-shirt, gantungan kunci, miniatur perahu Lancang Kuning, kue khas Riau serta banyak lagi. Disini, Anda mesti bebrapa pintar menawar untuk memperoleh harga terjangkau. Di lantai 1 pasar ini, spesial di jual beberapa barang seperti karpet, bermacam keramik, makanan impor, tas, dan sebagainya. Masalah kwalitas, janganlah sangsi. Beberapa barang disini berkualitas tinggi. Lantaran beberapanya juga adalah beberapa barang yang datang dari luar negeri.

Tidak jauh dari Pasar Bawah, juga ada Tugu titik 0 pertama di Pekanbaru. Tugu titik 0 ini terdapat di Pelabuhan Pelindo, Kelurahan Kampung Dalam, Senapelan. Pelabuhan Pelindo semakin menarik saat masuk sore hari. Banyak kesibukan orang-orang di pelabuhan ini. Dari mulai memancing, olahraga, sampai duduk enjoy sembari melihat kapal-kapal besar bertumpu di Sungai Siak, yang disebut sungai terdalam di Indonesia.

Senang belanja, masihlah dengan jalan kaki, Anda dapat bertandang ke tempat tinggal Tuan Kadi. Ini satu diantara tempat tinggal tertua di Senapelan. Terdapat di Jalan Senapelan Gang Tepi. Cuma kurang lebih 500 mtr. dari Pasar Bawah. Tempat tinggal Tuan Kadi adalah peninggalan Kesultanan Siak saat lantas. Dimaksud dengan juga tempat tinggal hinggap. Tempat tinggal ini jadi persinggahan Sultan Syarif Kasim II saat berkunjung ke Pekanbaru. Dirumah ini beragam masalah serta kiat membenahi Bandar Senapelan dibicarakan. Dirumah ini dapat ada kamar tidur yang dahulu umum dipakai Sultan Syarif Kasim II. Apabila bertandang kesini, satu diantara cucu Tuan Kadi yang saat ini menghuni tempat tinggal ini dapat menceritakan panjang lebar mengenai tempat tinggal bersejarah ini.

Selama jalan Anda bakal menjumpai pusat penjualan barang sisa, seperti ban, velg, property (meja serta kursi), alat-alat mesin, dsb. Beberapa besar beberapa barang disini adalah impor dari luar negeri. Datang ke Pekanbaru belum komplit rasa-rasanya apabila belum mencicipi kulinernya. Menyeruput kopi sembari bercanda-tawa dengan rekan seperjalanan dapat jadi pilihan. Singgah saja ke kedai kopi Kimteng, masihlah di Jalan Senapelan. Ini kedai kopi paling populer di Pekanbaru, satu diantara tempat kuliner andalan disini. Menu favoritnya roti bakar selai Sari Kaya serta Kopi. Apabila sudah ada di Senapelan, sayang apabila melupakan peluang datang ke tempat ini

Masjid Raya Pekanbaru di bangun pada era ke 18 pas 1762 hingga adalah mesjid tertua di Pekanbaru. Mesjid yang terdapat di Jalan Senapelan Kecamatan Senapelan ini mempunyai arsitektur tradisional. Mesjid yang juga adalah bukti Kerajaan Siak Sri Indrapura pernah bertahta di Pekanbaru (Senapelan) yakni di saat Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah sebagai Sultan Siak ke-4 serta diteruskan pada saat Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai Sultan Siak ke-5.

Histori berdirinya Mesjid Raya Pekanbaru diceritakan saat di saat kekuasaan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memindahkan serta jadikan Senapelan (saat ini Pekanbaru) sebagai Pusat Kerajaan Siak. Telah jadi kebiasaan Raja Melayu waktu itu, perpindahan pusat kerajaan mesti diikuti dengan pembangunan ” Istana Raja “, ” Balai Kerapatan Kebiasaan “, serta ” Mesjid “. Ketiga unsur itu harus di bangun sebagai representasi dari unsur pemerintahan, kebiasaan serta ulama (agama) yang umum dimaksud ” Tali Berpilin Tiga ” atau ” Tungku Tiga Sejarangan “.

Pada penghujung th. 1762, dikerjakan upacara ” menaiki ” ketiga bangunan itu. Bangunan istana dinamakan ” Istana Bukit ” balai kerapatan kebiasaan dimaksud ” Balai Payung Sekaki ” serta mesjid dinamakan ” Mesjid Alam ” (yang mengikut pada nama kecil sultan Alamuddin yakni Raja Alam). Pada th. 1766, Sultan Alamuddin Syah wafat serta di beri gelar MARHUM BUKIT. Sultan Alamuddin Syah digantikan oleh puteranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Pada saat pemerintahannya (1766-1779), Senapelan berkembang cepat dengan kesibukan perdagangannya. Beberapa pedagang datang dari semua penjuru. Jadi untuk menyimpan arus perdagangan itu, dibuatlah satu ” minggu ” atau pasar yang baru, minggu yang baru berikut lalu jadi nama ” Pekanbaru ” saat ini.

Perubahan yang demikian cepat mengakibatkan Mesjid Alam tak akan cukup menyimpan beberapa jemaah yang melaksanakan ibadah ataupun yang menuntut pengetahuan agama disana. Terlebih Sayid Osman, seseorang ulama, memakai mesjid itu sebagai pusat dakwah menebarkan Agama Islam. Atas basic musyawarah Sultan Muhammad ALi, Sayid Osman, Datuk Empat Suku beserta beberapa pembesar yang lain, disetujui untuk jadi besar mesjid itu. Pada th. 1775, pekerjaan membesarkan bangunan mesjid dikerjakan. Menurut sumber lokal, bangunan msjid yang diperbarui itu, ke empat ” Tiang Seri ” disiapkan oleh Datuk Empat Suku, ” Tiang Tua ” disiapkan oleh Sayid Osman, ” Kubah Mesjid ” disiapkan oleh Sultan Muhammad Ali, sedang pelaksanaannya dikerjakan oleh semua rakyat. Langkah tersebut tunjukkan persebatian/kesatuan pada Pemerintah, Ulama, Kebiasaan serta orang-orang. Referensi ini lalu dikekalkan di Kerajaan Siak, yang memiliki kandungan maksud spesifik juga :

Sultan : Pucuk pemerintahan pemegang daulat
Datuk Empat Suku : Tiang pemerintahan pemegang adat
Ulama : Tiang agama pemegang hukum syarak
Rakyat : Darah daging kerajaan pemegang Soko Pusaka, petuah serta amanah

Diperbesarnya mesjid ini diikuti dengan pergantian nama mesjid jadi Mesjid Nur Alam yang bermakna memberi sinar ke alam sekitarnya serta memberi penerangan untuk hati ummat manusia.

Pada th. 1779, Sultan Muhammad Ali ditukar oleh iparnya Sultan Ismail (1779-1781) yang setelah mangkat digantikan oleh Sultan Yahya (1781-1784). Sultan Yahya ditukar oleh putera Sayid Osman yakni Tengku Udo Sayid Ali bergelar Assyaidissyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784-1810). Pada saat pemerintahannya, pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke Mempura Kecil (Kota Siak saat ini). Saat itu juga, Mesjid Nur Alam di beri selasar (teras) yang dipakai untuk tempat peziarah duduk, sekalian tempat pemberian/pelafasan gelar. Konon mulai sejak itu, banyaklah mesjid di bangun memakai selsar di sekitar bangunan, sedikitnya di satu diantara segi bangunan.

Pada saat pemerintahan Sultan Ismail II yang bergelar Sultan Assyadisyarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827-1864), Mesjid Nur Alam diperbaiki lagi serta jadi besar selasarnya. Sultan Ismail II mangkat pada th. 1864 serta digantikan puteranya Tengku Sayid Kasim (Sultan Syarif Kasim Awal). Pada saat ini tak ada pergantian yang mendasar pada bangunan mesjid. Pergantian baru berlangsung saat Tengku Putera Sayid Hasyil memegang tampuk pemerintahan (1889-1908). Pada saat itu, Mesjid Nur Alam dipindahkan 40 langkah dari posisi awal mulanya ke arah matahari hidup/terbit (timur). Dengan dipindahkannya posisi mesjid ini, jadi mesjid ini populer dengan Mesjid Sultan yang bermakna dipindahkan oleh Sultan. Lantaran bangunannya lebih luas, jadi dimaksud juga Mesjid Besar yang terkadang juga dimaksud Mesjid Raya.

Sultan Sayid (Said) Hasyim mangkat pada th. 1908 serta digantikan puteranya Tengku Said Kasim yang bergelar Sultan Assyaidissyarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin yang umum dimaksud Sultan Syarif Kasim II. Sultan memerintah hingga kerajaan Siak selesai di th. 1946 saat berhimpun dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahhu 1935, Sultan Syarif Kasim II mengambil keputusan untuk bangun mesjid semakin besar dengan bahan semen serta batu yang letaknya berdekatan dengan mesjid lama yang telah ada, dengan basic pertimbangan intinya masihlah menyatu dengan mesjid lama. Jadi dalam th. itu juga dimulailah pembangunan mesjid yang disebut, yang namanya tetaplah jadi Mesjid Raya. Penentuan tempat yang berdekatan ini dengan pertimbangan sebagi tersebut :

  • Mesjid baru intinya masihlah menyatu dengan mesjid lama 
  • Mesjid baru tempatnya berdekatan dengan makam-makam nenek moyang beliau 
  • Mesjid baru di bangun agar lebih tahan serta lebih besar 
  • Mesjid baru ini di bangun sebagai sinyal ingat beliau pada nenek moyangnya yang sudah berjasa meningkatkan Islam di Kerajaan Siak serta sekitarnya.
Wisata tempat lain :

Wisata Religi Masjid Senapelan Pekanbaru Riau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *