Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Posted on
Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Menelusuri keindahan serta kekhasan Sumatera Barat memanglah mengasyikkan. Kesempatan ini kita lihat kekhasan serta keindahan istana Bung Hatta. Istana Bung Hatta yaitu gedung sisa tempat tinggal Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta yang terdapat di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.Bangunan istana Bung Hatta sekarang ini yaitu hasil renovasi pada th. 1960-an sesudah bangunan asli dibumihanguskan pada saat Agresi II Militer Belanda. Nama gedung mengambil lambang panorama seputarnya yang dikelilingi tiga gunung : Gunung Singgalang, Gunung Marapi, serta Gunung Sago.

Waktu pendudukan ibu kota Yogyakarta oleh Belanda, Bukittinggi yang memanglah fungsi sebagai ibu kota Pemerintah Darurat Republik Indonesia jadikan gedung ini sebagai satu diantara basis PDRI. Sesudah pemecahan Sumatera Tengah jadi tiga propinsi pada 1958, Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa menggagas renovasi gedung serta menyematkan nama Gedung Negara Tri Arga.

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Banyak wisatawan bertandang ke Kota Bukit Tinggi, sekitaran 93 km utara Padang, Sumatera Barat, bertanya-tanya serta bahkan juga hampir tidak yakin mengenai kehadiran Istana Bung Hatta, yang persis ada di depan Jam Gadang, trade mark-nya Bukit Tinggi. ” Saya baru tahu, bila di Bukittinggi ada Istana Bung Hatta. Apa serta bagaimana kehadiran istana itu, saya tidak paham, terkecuali tahu Bung Hatta, sebagai Wakil Presiden. Histori nyaris tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah kehadiran istana serta ada apa dengan Bung Hatta di Bukit Tinggi, ” kata Dianti (25), seseorang mahasiswi asal Jakarta, Sabtu (3/8) di Bukit Tinggi.

Fakta seirama juga dikemukakan Sisilia, pelajar SMU asal Medan, Sumatera Utara, yang didapati dengan cara terpisah di Bukit Tinggi. ” Kehadiran Istana Bung Hatta serta peran Bung Hatta di kota kelahirannya, Bukit Tinggi, butuh diperjelas serta dimasukkan dalam pelajaran histori, supaya semuanya serta tiap-tiap generasi tahu, ” katanya.

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Ketidaktahuan beberapa orang, termasuk juga orang-orang Sumatera Barat sendiri, mengenai peran Bung Hatta serta kehadiran Istana Bung Hatta di Bukit Tinggi, dapat dipahami serta dimaklumi, lantaran begitu tidak sering buku-buku histori Indonesia menerangkan hal semacam ini.
 ” Kita prihatin, banyak beberapa hal utama dalam perjuangan bangsa ini yang berniat dikaburkan bahkan juga di hilangkan untuk kebutuhan rezim Soeharto, penguasa (Orde Baru). Termasuk juga peran Bung Hatta di Sumatera (Bukit Tinggi), ” kata sejarawan Kampus Negeri Padang, Dr Mestika Zed MA. Sebenarnya, kata Mestika Zed, saat Hatta ada di Sumatera tersebut perjuangan keberdekaan Indonesia peroleh ciri yang lebih internasional.

Revolusi di Sumatera

Ada dua masalah ” revolusi sosial ” yang meletus di Aceh serta Sumatera Timur, bikin Bung Hatta begitu tidak menginginkan menahan-nahan lagi kunjungannya ke Sumatera. Lantaran krisis internal pada badan Republik Indonesia itu meneror keutuhan integrasi bangsa.
Menurut Mestika Zed, ke-2 perseteruan revolusioner itu biasanya diperuntukkan pada kekuasaan bangsawan setempat. Revolusi di Aceh, yang lebih bercorak Islam daripada Marxis, tak demikian mencemaskan Hatta. Walau demikian kondisi di Sumatera Timur lebih beresiko. Soalnya bebrapa tindakan revolusi sosial disana beberapa terang mempunyai jalinan segera dengan grup Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka, tokoh yang dihormati di Sumatera, termasuk juga di daerah aslinya sendiri, Minangkabau.

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Kiat perjuangan Tan Malaka serta pengikutnya mulai sejak awal mulanya menentang keras kebijakan berunding yang di ambil pemerintah. Mereka lebih mengutamakan garis keras melalui perjuangan bersenjata, yang dia anggap sesuai sama semangat militansi di kelompok golongan nasionalis di pulau itu. Namun diluar itu, Hatta juga begitu mencemaskan pecahnya perseteruan internal di kampung halamannya.

 ” Semuanya sudah menyadarkan Hatta bakal sinyal tanda beresiko perpecahan yang lebih luas dalam kepemimpinan revolusi di daerah aslinya sendiri. Sebagian bln. lalu Hatta hingga di Sumatera serta tak lama kemudian, yaitu bln. Juli 1947 Agresi Militer Belanda meletus. Hatta ada di Sumatera hingga mendekati meletusnya Agresi Militer ke-2 bln. Desember 1948. Sepanjang masa pada dua perang kemerdekaan tersebut Hatta bertahan serta memimpin perjuangan di tengah-tengah rakyat Sumatera, ” kata Mestika Zed.

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Untuk Hatta terutama serta untuk beberapa pemimpin di pusat, Sumatera yaitu daerah alternatif sekalian hari esok perjuangan Republik. Kenapa? Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Republik dalam hadapi Belanda di Jawa, terutama sesudah penandatanganan perundingan Linggarjati, selekasnya menyebabkan spekulasi, kalau pasukan Belanda, cepat atau lambat, selalu menekan serta pada akhirnya menempati beberapa daerah strategis di Pulau Jawa.

Karenanya, perjuangan pada gilirannya bakal berjalan dalam pertempuran di pegunungan serta rimba belantara Sumatera. Sekian utamanya Sumatera di mata Hatta, hingga satu saat dimuka Proklamasi Kemerdekaan RI ia pernah menyampaikan, ” Sumatera bisa jadi lautan api serta terbenam ke basic lautan, asal janganlah jatuh ke tangan penjajah Belanda. “

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Menurut Mestika Zed, Hatta pergi ke Sumatera awal Juni 1947, yaitu 10 hari sesudah terima undangan dari KNI Sumatera. Walau masihlah ada yang terasa keberatan dengan gagasan kunjungan itu, dengan menyampaikan, kalau di Yogya tengah kekurangan pemimpin serta pekerjaan di Pulau Jawa begitu banyak serta susah ditinggalkan demikian saja, dan sebagainya, Hatta tak akan ingin tunda keberangkatannya. Cuma menyikapi datar, namun tegas ; ” Apakah Sumatera itu bukanlah Indonesia? “

Pada akhirnya, Hatta pergi dengan menumpang kereta api sore dari Stasiun Tugu, Yogyakarta, berbarengan rombongan yang cukup besar jumlahnya. Berikut kunjungan pertama Wakil Presiden RI ke Sumatera.

Sebagai negarawan besar yang dielu-elukan rakyatnya seperti tampak dari sambutan yang diterimanya di tiap-tiap stasiun yang dilewatinya, dia disambut massa rakyat dengan cara spontan serta hangat tanpa ada butuh dimobilisasi oleh pihak mana juga. Nyaris di tiap-tiap tempat pemberhentian, Hatta ” didaulat ” untuk berpidato. Dalam perjalanan, ia mesti pikirkan rencana pidatonya yang lebih baru agar tak jadi basi di telingga beberapa pendengarnya.
Mempersatukan Indonesia

Meskipun Hatta miliki tempat tinggal tempat kelahirannya di Bukit Tinggi, tetapi sepanjang keberadaannya di Sumatera ia menetap dirumah ” Tamu Agung “, yang lalu di kenal Gedung Tri Arga, Wisma Hatta, serta paling akhir dirubah namanya jadi Istana Bung Hatta. Istana Bung Hatta adalah bagunan besar sisa tempat tinggal Asisten Residen Belanda di Bukit Tinggi. Oleh Hatta dipakai sebagai tempat tempat tinggalnya serta sekalian sebagai Istana Wakil Presiden RI di Bukit Tinggi. Dari sana Hatta memimpin perjuangan di Sumatera serta mengadakan pertemuan-pertemuan dengan beberapa pemimpin setempat sembari pelajari beberapa masalah menekan yang dihadapi Sumatera biasanya, Sumatera Barat terutama.

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Satu diantara prakarsa Hatta terutama umpamanya, coba menjadikan satu beberapa besar partai serta organisasi sosial yang ada di Minangkabau dibawah satu komando, yakni lewat apa yang diberi nama Tubuh Pengawal Nagari serta Kota. Gerakan Tubuh Pengawal Nagari serta Kota ada dibawah satu sekretariat berbarengan yang terbagi dalam lima orang tokoh politik terpenting di Sumatera Barat seperti Hamka, Chatib Sulaiman, Udin, Rasuna Said, serta Karim Halim.

Juga kebijakan Hatta untuk menjadikan satu kemampuan bersenjata yang terpecah-pecah serta kadang-kadang sama-sama berbenturan, memperoleh sokongan dari militer. Beragam unit tempur yang sama-sama terpisah diluar deretan tentara reguler TNI dengan memadukan semuanya laskar-laskar serta tentara reguler dibawah satu komando bernama Dewan Kelaskaran.

Penggabungan kemampuan yang semakin besar pada unsur sipil yakni Tubuh Pengawal Nagari serta Kota dengan deretan TNI kedalam satu komando yang dikehendaki Hatta, yaitu apa yang dimaksud Front Nasional, tidaklah ikhtiar percuma. Akhirnya begitu dirasa lalu dalam hadapi dua agresi Belanda. Front Nasional memerankan cukup utama dalam perjuangan Republik masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Masih tetap dalam rangka melakukan perbaikan kesetiaan lokal pada pusat, Hatta dengan beragam langkah juga lakukan reorganisasi pemerintahan sipil. Diantaranya dengan memulihkan otonomi lokal lewat kebijaksanaan menghapuskan jabatan residen. Posisi Sub-Gubernur serta Gubernur Hasan untuk semua Sumatera juga kurang berperan. Fakta ini mendorong Hatta untuk menggembalikan bentuk pemerintahan pada apa yang diperjuangkannya pada awal Proklamasi. Waktu itu dalam sidang PPKI usul Hatta supaya Sumatera dibagi jadi tiga propinsi, dengan seseorang gubernur sebagai kepalanya, sudah ditentang Gubernur Sumatera Mr Teuku Moh Hasan, serta pada akhirnya ia kalah nada.

Sekitaran bln. Mei 1947, saat masihlah ada di Bukittinggi Hatta memperoleh instruksi Soekarno supaya pergi ke India. Melalui layanan Biju Patnaik, seseorang tokoh nasionalis India yang bersimpati dengan revolusi Indonesia, yang berkunjung di Bukittinggi dari perjalanan berkunjung ke Yogya serta disuruh untuk mengulas pertolongan senjata dari India. Hatta kembali pada Sumatera (Bukit Tinggi) sekitaran pertengahan Juli 1947, namun misinya untuk memperoleh senjata, lantaran beragam argumen, gagal.

Hatta kembali melanjutkan perjalanan keliling yang terganggu terlebih dulu, seperti ke Tapanuli serta Sumatera Timur. Walau demikian, hingga di Pematang Siantar, yang barusan jadi Ibu Kota Propinsi Sumatera, nyaris jatuh ke tangan Belanda. Hatta serta Gubernur Teuku Moh Hasan tak mempunyai beberapa pilihan, terkecuali mundur serta kembali pada Bukit Tinggi, yang mulai sejak awal Proklamasi tetaplah ada diluar orbit kekuasaan Belanda.

Hatta serta rombongan, baru hingga di Bukit Tinggi pada tanggal 29 Juli 1947. Kota itu selekasnya jadi penuh sesak. Sebelumnya perang penduduknya cuma sekitaran 15. 000 jiwa serta setelah bln. Juli itu melonjak nyaris meraih 100. 000. Masalah perumahan yang telah susah jadi makin susah, namun Kota Bukit Tinggi malah jadi makin utama kedudukannya. Bukanlah saja lantaran statusnya sebagai ibu kota Sumatera yang baru, tetapi juga tempat kedudukan Markas Besar Komandemen TNI Sumatera.

Pusat Perjuangan Pasca Agresi Belanda


Ketika Jawa makin tertekan akibat Agresi Militer Belanda I, di samping ” terkepung ” oleh kontrol blokade ekonomi Belanda yang makin ketat, Sumatera tampak sebagai daerah alternatif serta mempunyai ruangan gerak yang relatif bebas dalam melanjutkan perjuangan kemerdekaan. Peluang ini sudah dipakai Hatta dengan sebaik-baiknya.
Hatta baru kembali pada Jawa tanggal 5 Februari 1948, sesudah dijemput segera oleh beberapa pemimpin pusat, termasuk juga salah satunya Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, Syahrir, Zaenal Baharuddin (tokoh pemuda), serta Prawato (Masyumi), menyusul diterimanya oleh Pemerintah Kesepakatan Renville.

Untuk melepas Hatta, di gelar satu rapat besar di lapangan Kantin, di pusat Kota Bukittinggi. Tampak ke podium tiga tokoh pembicara dengan cara bertukar-ganti. Hatta berpidato pada giliran yang pertama, untuk mengatakan pidato perpisahan dengan rakyat Sumatera Barat. Pidato Hatta singkat saja, berikut cuplikannya :

 ” Kalau Kesepakatan Renville hanya satu mata rantai dalam perjuangan kita yang panjang. Ada orang yang menyampaikan kita kalah. Namun saya peringatkan, kalau bangsa yang kalah adalah bangsa yang mengakui kalah. Perjuangan kita lanjutkan dengan beragam resikonya. Kita telah di terima menjaga kemerdekaan kita dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karenanya, Republik Indonesia tak akan dapat dihapuskan dari peta dunia. “

Sejarawan Mestika Zed menerangkan, Audrey Kahin dalam kajiannya mengenai revolusi di Sumatera Barat, lihat hadirnya Hatta di tanah kelahirannya itu sebagai agen paling utama yang menanggung subordinasi gosip lokal pada gosip nasional.

Wisata tempat lain : 

Wisata Tempat Istana Bung Hatta, Bukit Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *