Edukasi Alam dan Mengenal Camp Leakey di Kalimantan Tengah

Posted on
Edukasi Alam dan Mengenal Camp Leakey di Kalimantan Tengah

Sebagai habitat rimba hujan mereka selalu dihancurkan, penambahan jumlah orangutan yatim piatu serta terlantar dibawa ke pusat rehabilitasi di Kalimantan serta Sumatera. Kerapkali dengan support dari Orangutan Outreach, staf di pusat-pusat bekerja tanpa ada capek untuk merehabilitasi orangutan ini untuk reintroduksi pada akhirnya ke alam liar. Dalam satu studi baru yang diterbitkan hari ini di jurnal, Laporan Ilmiah, Dr Graham L Banes serta rekanan tunjukkan kalau pusat-pusat ini tak berniat bisa mencampurkan orangutan dari sub-populasi geografis yang tidak sama, yang akan tidak alami co-ada di alam liar. Di Camp Leakey di Taman Nasional Tanjung Puting, dimana kian lebih 90 orangutan yang launching 1971-1985, sekurang-kurangnya dua orang dari ‘salah’ subspesies yang berniat dikenalkan kembali pada ‘salah’ tempat. Disini, Graham menerangkan bagaimana wanita ini mempunyai subur antar-dibesarkan dengan populasi liar, menghasilkan orangutan hibridisasi dengan ‘koktail’ gen dari subspesies orangutan yang tidak sama. Studi kelanjutan Graham genetika orangutan beberapa waktu terakhir di dukung oleh dana dari Orangutan Outreach.

Anggota Orangutan Outreach akan tidak terperanjat dengan pengingat kalau orangutan terbagi dalam dua spesies yang tidak sama, diketemukan dengan cara eksklusif di alam liar di pulau Borneo (Pongo pygmaeus) serta Sumatera (Pongo abelii). Walau mereka mungkin saja tampak sama, orangutan ini mungkin saja menyimpang sekitaran 400. 000 th. waktu lalu, serta sudah sekian berkembang jadi dua spesies yang terpisah dengan ciri-ciriistik genetik yang begitu tidak sama. Di kebun binatang di semua dunia, spesies ini dikelola sebagai dua populasi berdiri sendiri : yang kenapa, bila Anda berkunjung ke kebun binatang lokal Anda, Anda mungkin saja cuma lihat baik orangutan Borneo atau Sumatra. Dengan melindungi spesies ini terpisah, kita melestarikan ciri-ciriistik unik semasing. Lantaran spesies sudah diisolasi sepanjang bertahun-ribuan th., kami juga hindari potensi permasalahan kesehatan serta reproduksi yang dapat muncul bila kita antar-berkembang biak mereka.

Beberapa orang tak mengerti macam yang cukup besar dalam tiap-tiap spesies, tetapi. Sekarang ini, orangutan Borneo dibagi jadi tiga subspesies yang tidak sama, yang semua genetik serta geografis terisolasi, serta paling akhir mempunyai nenek moyang berbarengan sekitaran 176. 000 th. waktu lalu. Sepanjang 80. 000 th. paling akhir, mereka sudah terlebih beralih, jadi lebih serta lebih tidak sama keduanya. Subspesies ini saat ini bisa diketemukan di beberapa sisi pulau : Pongo pygmaeus wurmbii di selatan, Pongo pygmaeus pygmaeus di barat, serta Pongo pygmaeus morio di timur.

Saat Birute Galdikas serta Rod Brindamour mengawali program rehabilitasi orangutan pionir dalam Taman Nasional Tanjung Puting – tempat tinggal untuk populasi liar Pongo pygmaeus wurmbii – mereka tidak paham kalau orangutan Borneo termasuk juga tiga subspesies yang tidak sama. Bahkan juga, tak ada yang mengerjakannya : pada saat itu, masihlah ada perbincangan, apakah atau tak orangutan Borneo serta Sumatera bahkan juga yang tidak sama. Kian lebih 14 th., mereka diselamatkan serta dikenalkan kembali kian lebih 90 orangutan di Camp Leakey, riset serta rehabilitasi website mereka di Taman Nasional. Banyak dari beberapa orang selamat, antar-dibesarkan dengan populasi liar, serta meneruskan untuk mempunyai generasi mereka sendiri dari keturunan yang sehat.

Memakai analisa genetik serta 44 th. data dari Camp Leakey, kita saat ini telah bisa memastikan batas minimal yang mereka melaunching subspesies non-pribumi ke taman nasional. Kami temukan kalau Rani serta Siswoyo, dua wanita yang diselamatkan dari perdagangan hewan peliharaan, awalannya di tangkap dari barat Kalimantan, serta dengan hal tersebut dari subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus. Mulai sejak pembebasan mereka, mereka mempunyai ke-2 inter-dibesarkan subur dengan lelaki dari subspesies lokal, Pongo pygmaeus wurmbii, menghasilkan sekurang-kurangnya 22 keturunan hibridisasi to date. Seperti yang diperlihatkan pada ilustrasi dibawah, keturunan ini sudah mewarisi ‘koktail’ gen yg tidak dapat umumnya berlangsung di alam liar.

Ada pepatah lama yang ” berlawanan menarik ” – serta memanglah, anak yang lahir dari orangtua dengan cara genetik tidak sama terkadang dapat memperoleh keuntungan dari beragam gen mereka mewarisi. Ini dimaksud ‘kekuatan hibrida’, serta mungkin saja menolong menerangkan kenapa Rani nikmati kesuksesan reproduksi paling besar dari wanita manapun di website. Rani saat ini mempunyai sekurang-kurangnya 14 keturunan kian lebih tiga generasi keturunan. Walau dua wafat waktu masihlah bayi, bekasnya yang disangka jadi hidup serta tak di ketahui sudah dibutuhkan tiap-tiap intervensi hewan. Tetapi, yang lahir dari orangtua yang sangat tidak sama dapat mempunyai dampak demikian sebaliknya : saat gen yang tidak sama yang sudah berevolusi dengan cara terpisah sepanjang bertahun-tahun mendadak datang berbarengan, mereka mungkin saja sudah mandiri beralih hingga mereka tak akan cocok keduanya. Kami menyebutnya ‘outbreeding depresi’, serta itu mungkin saja menerangkan kenapa kesuksesan reproduksi Siswoyo ini yaitu yang terburuk dari tiap-tiap wanita di Camp Leakey. Siswoyo cuma lima generasi pertama serta tiga anak generasi ke-2. Dua anaknya wafat waktu masihlah bayi, sesaat infeksi sesudah kehamilan ke-2 menyebabkan kematian Siswoyo sendiri sepuluh hari sesudah melahirkan. Putri cuma dia, Siswi, membuahkan keturunan lahir mati, seseorang putri yang wafat waktu masihlah bayi, serta anak yang kerap diperlukan intervensi medis. Siswi sendiri sudah kerap dibutuhkan perawatan hewan, termasuk juga operasi besar untuk menyembuhkan usus berlubang.

Kita tak dapat menarik rangkuman yang kuat dari temuan ini, serta terlebih tak dengan ukuran sampel dari dua. Mungkin saja tak kemampuan hibrida atau outbreeding depresi yang perlu disalahkan ; mungkin saja itu semuanya cuma kebetulan, namun temuan kami cukup untuk mengakibatkan alarm serius. orangutan Borneo sudah dibagi jadi subspesies ini untuk beberapa puluh ribu th. ; mereka dapat tak pernah umumnya co-ada di alam liar. Dengan membawa mereka berbarengan lagi, kita pada intinya bermain Tuhan. Kita tidak paham tentu apa konsekwensi bakal, namun temuan kami dari Camp Leakey merekomendasikan kita duduk serta memerhatikan. Sesudah kami mengenalkan kembali orangutan ‘salah’ ke ‘salah’ tempat, kita tak pernah dapat mengambil kembali : terlebih sesudah mereka sudah direproduksi. Rani serta keturunan Siswoyo ini selalu bertambah jumlahnya, serta – lantaran keduanya melahirkan lelaki yang sudah mulai sejak keturunan menyebar serta mungkin saja bapak – itu masuk akal untuk mengasumsikan kalau terdapat beberapa kian lebih cuma 22.

Untungnya, itu tidak mematuhi hukum Indonesia pada sekarang ini untuk mengenalkan kembali orangutan dari subspesies yang tidak sama kedalam ‘salah’ lokasi geografis. Tetapi, itu begitu susah untuk lakukan tes genetik yang dibutuhkan di negeri ini – mereka mahal, mereka susah untuk lakukan, serta ada kurangnya laboratorium memiliki pengalaman yang dapat mengerjakannya. pusat rehabilitasi juga begitu kekurangan dana, apabila itu yaitu undian diantara makan orangutan atau membayar untuk tes genetik, saya terang pilih untuk makanan juga. nomer belum tingkatkan orangutan yatim piatu serta terlantar selalu membanjiri pusat-pusat, serta dengan beberapa website launching yang pas, sebagian sudah mendorong kalau kita mencampurkan semuanya orangutan Borneo serta melepas mereka ke populasi ‘koktail’. Ini dianjurkan untuk jadi jalan keluar yang dapat di terima, seandainya ini ‘cocktail’ grup terisolasi dari orangutan liar. Lalu, bahkan juga bila outbreeding depresi mengambil selalu, mereka akan tidak meneror keberlangsungan hidup populasi alami. Namun lalu apa fungsinya? Menurut pendapat saya, reintroduksi yaitu cuma sukses bila hewan-hewan ini bisa bertahan hidup, mereproduksi, serta mempunyai generasi mereka sendiri dari keturunan yang sehat serta mandiri. Bila kita insinyur ‘koktail’ populasi yang lalu wafat akibat kesehatan yang jelek serta kesuksesan reproduksi, mungkin saja pada akhirnya jadi unviable atau bahkan juga punah, semuanya yang kami capai yaitu kesejahteraan periode pendek.

Saya yang pertama untuk mensupport rehabilitasi orangutan serta saya terasa meyakini kalau kesejahteraan yaitu yang paling dapat kita kerjakan untuk hewan yatim piatu serta terlantar. Sebagai manusia, kita bertanggungjawab untuk kondisi mereka, serta kami mempunyai tanggung jawab moral serta norma untuk bikin hidup mereka yang paling baik yang mereka dapat. Namun kita tak perlu untuk kompromi, serta saya fikir pemecahannya simpel : genetik menguji orangutan, serta mengenalkan kembali mereka ke beberapa daerah dari tempat mana mereka datang. Hingga kita dapat tahu dengan tentu kalau tak ada dampak jelek dari hibridisasi subspesies orangutan yang tidak sama, kita betul-betul mesti melindungi mereka terpisah. Dalam seratus th., saya menginginkan beberapa orang untuk lihat kembali reintroduksi sebagai kiat yang bertanggungjawab serta berhasil yang menolong menyelamatkan spesies ini. Bila kita meremehkan perincian, serta cepat-cepat untuk mengenalkan kembali, warisan kita mungkin saja demikian sebaliknya : usaha kurang info serta disalahpahami yang meneror keberlangsungan hidup populasi telah terancam punah.

Disamping itu, kami berusaha keras untuk memastikan apakah orangutan antar pembiakan subspesies yang tidak sama mempunyai dampak sakit pada taraf yang lebih luas. Dengan cara spesial, kami bekerja sama juga dengan kian lebih seratus kebun binatang di semua dunia untuk menyatukan sampel genetik dari orangutan Borneo mereka. Di kebun binatang, rute subspesies yang tidak sama sudah tanpa ada pandang bulu antar-dibesarkan sepanjang sebagian dekade – serta yang paling orangutan di koleksi zoologi mungkin saja ‘koktail’ untuk sebagian derajat. Dengan mengkaji mereka genetik make-up berbarengan kesehatan, reproduksi serta catatan nekropsi, kami mulai memperoleh inspirasi yang lebih luas dari dampak yang ‘koktail’ gen bisa mengakibatkan. Pekerjaan ini adalah sisi dari usaha kami yang lebih luas untuk pelajari genetika dari orangutan di kebun binatang, berjudul The Orangutan Conservation Genetics Project. Proyek ini adalah program mitra dari Asosiasi Dunia Kebun Binatang serta Akuarium.

Studi kami akan tidak usai untuk sekian waktu, tetapi nyaris selesai mendadak. Pada musim gugur 2014, kita alami kegagalan freezer besar di laboratorium kami di Henry Vilas Zoo di Madison, WI, markas Amerika Utara The Orangutan Conservation Genetics Project. Sepanjang sebagian jam mengerikan, kami melihat kami freezer ultra-rendah hangat hingga suhu kamar, meneror keberlangsungan hidup beberapa ribu sampel genetik orangutan dari semua dunia – termasuk juga sampel tinja dari orangutan di Camp Leakey. Untungnya, Richard Zimmerman dari Orangutan Outreach menyikapi banding darurat kami, serta memberi peran 1/2 cost dari freezer ultra-rendah baru untuk sampel kami. Henry Vilas Zoological Yayasan pas dengan hibah, serta sampel kami – serta studi – aman sebagai akhirnya. Pekerjaan kami saat ini berlanjut dengan support dari Orangutan Outreach, serta saya bakal lihat ke depan untuk pembaca memperbarui saat riset kami membuahkan hasil.

Dr Graham L Banes yaitu Postdoctoral Fellow dari Chinese Academy of Sciences di CAS-MPG Partner Institut Biologi Komputasi di Shanghai, satu Postdoctoral Ilmuwan di Jerman Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Profesor Pembantu di Sekolah Kedokteran Hewan di Kampus of Wisconsin-Madison, serta rekanan riset di Madison Henry Vilas Zoo. Studinya orangutan liar serta bekas tawanan saat ini dalam th. kesepuluh mereka.

Wisata tempat lain :

Edukasi Alam dan Mengenal Camp Leakey di Kalimantan Tengah

Edukasi Alam dan Mengenal Camp Leakey di Kalimantan Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.