Keindahan Tempat Wisata Kampung Cina, Manado

Posted on
Keindahan Tempat Wisata Kampung Cina, Manado

Kampung Cina yaitu satu nama perkampungan di Kota Manado yang mempunyai ciri spesial. Berlokasi di pusat peradaban serta perdagangan, tidak dapat lepas dari histori Kota Manado.

Rumah-rumah toko bertingkat dua terlihat berhimpitan. Cuma sebagian gang yang memisahkan deratan beberapa toko itu. Beragam barang dagangan tampak penuhi sebagian ruang yang cuma mempunyai lebar sekira lima mtr. itu.

Jejeran beberapa toko tidak cuma di satu ruas jalan saja. Sebagian blok di jalanan paling utama dijejali tempat tinggal toko (ruko). Selama jalan juga mobil-mobil parkir. Tidak ada jeda untuk sebatas mobil berhenti sesaat. Antrean kendaraan juga mengular di berjalan-jalan itu.

Berikut deskripsi khas pusat perdagangan di Manado : Kampung Cina. Mulai sejak dahulu lokasi ini populer sebagai pusaran perniagaan di Manado, bahkan juga Sulawesi Utara. Sampai saat ini ciri itu masihlah eksis.

Sejarawan Kawanua, Ivan RB Kaunang dalam nukilan secara singkat melukiskan asal-usul, serta kehidupan kampung dan warganya. Orang-orangnya yang mobile jadi perhatian pemerintah kolonial di saat lantas. Pemerintah Hindia Belanda lalu menyatukan mereka di satu tempat spesifik yang lalu terbentuk orang-orang yang berkarakter sendiri : Kampung Cina di Kecamatan Wenang.

Kampung Cina, dimaksud sekian lantaran biasanya didiami oleh beberapa orang keturunan Tionghoa. Lahirnya Kampung Cina tak dapat dilepaskan dari peran yang dimainkan pemerintah kolonial Belanda saat membangun benteng di sekitar pelabuhan Manado saat ini. Untuk membangun benteng, pemerintah kolonial membutuhkan beberapa pekerja tukang yang dihadirkan dari beragam penjuru Nusantara, salah satunya beberapa orang Cina.

Beberapa tukang ini lalu membuat satu perkampungan berhimpun berbarengan dengan beberapa pedagang Cina di samping timur dari tempat benteng yang masa datang dimaksud Kampung Cina. Endogami atau perkawinan diantara mereka, melahirkan anak cucu serta jadikan Kampung Cina makin luas. Serta oleh pemerintah kolonial rang Cina di saat itu di beri peran sebagai pedagang penghubung pada masyarakat pribumi (Minahasa) serta pemerintah kolonial.

Setelah itu, eksistensi Kampung Cina makin terang saat pengaturan pemukiman dikerjakan oleh pemerintah kolonial berdasar pada asal-usul. Seperti ada Kampung Belanda, Kampung Arab, serta Kampung Ternate.Biasanya orang Cina hidup sebagai petani di daerah asal. Namun di Indonesia demikian sebaliknya. Nyaris selama histori bangsa Indonesia mereka hidup terkonsentrasi dengan kokoh di kota-kota besar ataupun kecil, serta kuasai perekonomian. Tak kecuali di Kota Manado.

Modal paling utama yang dipunyai yaitu kemauan serta tekad yang keras untuk mempertaruhkan nasib dengan harapan memperoleh hari esok yang tambah baik.

Masuk Kampung Cina Manado, seperti ditulis Graafland (di era 19) … pada akhirnya sampailah kami di perkampungan Cina. … orang Cina membangun dua buah pintu gerbang yang bagus. Gerbang paling besar bersusun tiga, dengan atap yang menjorok keluar membuat spiral yang di beri beragam kain serta kertas seperti yang umum digunakan orang Cina. … ada beragam lukisan beragam mahluk mengerikan serta boneka dilukiskan dihiasi lampu-lampu.

Kampung Cina memanglah memiliki fungsi dalam perubahan serta perkembangan Kota Manado, baik dalam pembentukan ciri-ciri Kota Manado (tempat tinggal serta bangunan tua berciri spesial, seperti klenjteng serta vihara, dan kebiasaan). Serta terlebih bertindak di bidang ekonomi.

Jati diri yang Nyaris Punah 

Jati diri menunjuk pada jati diri orang-orang Kampung Cina tersebut serta Manado sebagai satu kota peninggalan Belanda. Kampung Cina yaitu sisi dari Kota Manado, yang di kuatirkan pada generasi setelah itu cuma tinggal nama.

Pemerintah Kota Manado kelihatannya tak serius membenahi pecinan sebagai satu tempat yang berkarakteristik spesial. Walau sebenarnya orang-orangnya dapat untuk bekerja bersama bangun sekitaran tempat. Semestinya, tempat pecinan jadi tempat wisata paling utama atau alternatif. Kampung Cina harusnya jadi satu diantara ikon wisata Manado yang dapat bikin wisatawan kerasan tinggal di Manado. Terdapat banyak usul serta anjuran untuk melindungi jati diri itu.

Umpamanya, bila wisatawan ke daerah ini, lalu berkunjung ke Bunaken tanpa ada berkunjung ke pecinan, bermakna belumlah komplit kunjungan wisatanya.Kelengkapan aksesories wisata butuh ditambah seperti nama tokoh serta nama jalan lokasi pecinan memakai kaligrafi Cina serta di bawahnya di beri makna bhs Indonesia. Serupa di banyak daerah atau Negara seperti Malaysia atau Singapura.

Di depan tokoh atau tempat tinggal di beri aksesories kecinaan untuk berikan kesan tidak sama dengan pemukiman yang lain. Kenyamanan yang lain butuh difasilitasi, seperti tak diperkenankannya mobil angkutan umum melewati lokasi percontohan wisata ini, parkir cuma bisa diluar lokasi, system keamanan yang baik, kebersihan, serta terdapatnya berbagai macam keperluan Cina tempodoeloe.

Cuma Andalkan Cap Go Meh 

Sesungguhnya kebiasaan Cina yang sudah berikan khazanah di beberapa daerah serta negara cukup banyak. Upacara religi, tarian, sampai seni bela diri sering dipertunjukkan.Di Manado, umpamanya, selang satu tahun lebih terakhir upacara Cap Go Meh, kelihatannya, telah jadi kalender tetaplah wisata religi di Manado. Turis-turis dari dalam serta luar negeri berdatangan melihat upacara keagamaan 15 hari sesudah Imlek itu.

Namun, iven ini bulannya susah di pastikan dalam bln. Masehi lantaran penanggalannya ikuti perhitungan bln. di langit. Maka dari itu janganlah cuma memercayakan Cap Go Meh untuk melindungi jati diri Cina di Manado, lantaran beberapa hal yang dapat karenanya.

Umpamanya, atraksi barongsai serta kung fu. Terdapatnya beberapa restoran, kue, mie lalo-lao, serta bakpao, toko obat, shines, serta apa sajakah yang bisa memperkuat jati diri. Bisa di ciptakan situasi yang sarat Tionghoa, atau kelokalan Tionghoa-Manado atau Tionghoa-Minahasa.

Lokasi pecinan bisa di ciptakan juga sejenis diorama, museum kecil yang bisa melukiskan histori perjalanan beberapa orang Tionghoa pertama kalinya tiba di Manado, termasuk juga tempat photo tempo doeloe, serta beragam kerajinan ekonomi kreatif sinyal kecinaan berbentuk oleh-oleh atau souvenir.


Seni Beladiri, Apa Kabarmu? 

Cina atau Tiongkok populer dengan seni beladiri. Ciri ini tidak kecuali ada di Manado. Jati diri ini masihlah tersisa serta nyaris punah dan belum dikelola serta digunakan sedemikian rupa untuk memperkaya khazanah kota wisata Manado.

Jati diri yang tersisa itu berbentuk berolahraga Wu Shu (Kung-Fu). Di masa th. 1970 – 1990-an berolahraga yang satu ini tumbuh subur berkompetisi sehat dengan berolahraga semacam yang lain seperti tinju, karate, tae kwondo.

Sesungguhnya, yaitu sebagian perguruan yang lahir serta besar dari lokasi pecinan ini. Salah satunya perguruan Lo Pa Kong, Naga Kuning, Naga Hijau, Sakura Yudo Kwan, PORBISI Garuda Putih, dsb. Ada yang masihlah bertahan dengan tetaplah eksis walaupun latihannya tertutup dengan dunia luar, serta ada juga dengan cara terbuka seperti Perguruan Garuda Putih (Guru Besarnya, alm. Ku-Seng).

Seni beladiri yang satu inipun nyaris punah. Sesungguhnya, berolahraga seni beladiri ini khas Manado lantaran lahir serta tumbuh dengan penyesuaian-penyesuaian, olah kreatif serta berbeda persis bahkan juga jauh dari perkiraan master-master Kung-Fu Tiongkok yang bertandang ke Manado. Berolahraga yang satu ini masihlah tumbuh, walau telah langka, serta herannya masihlah ada di Manado. Mudah-mudahan khazanah budaya, seni, serta religi itu tidak tertelan modernitas jaman yang super cepat merangsek kehidupan sekarang ini

Wisata tempat lain :

Keindahan Tempat Wisata Kampung Cina, Manado

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *